Sabtu, 22 Oktober 2016

Hari Santri Nasional #2

Sejak Presiden kita, bapak joko Widodo tahun lalu menetapkan  tanggal 22 Oktober sebagai peringatan hari santri Nasional, penggunaan label santri  semakin rame digunakan. Kita kan menemui banyak kegiatan atau event yang berlabel santri, seperti santripreneur, Liga Santri Nusantara, dan tidak sedikit kita juga menjumpai beberapa akun media sosial  yang berbel santri, seperti Ala santri, Santri Keren, Santri Kece, Story Pesantren, Ayo Mondok, dan masih banyak lagi.
Bahkan ditahun kedua peringatan hari santri nasional ini, didesain dengan sangat meriah. Hampir semua elemen turut merayakan. Seperti PBNU yang mengadakan acara kirab santri yang dimulai di Banyuwangi pada 13 Oktober hingga tiba kembali di Jakarta pada 22 Oktober. Ada juga kegiatan I milyar sholawat Nariyah untuk Indonesia.  Bahkan pagi ini, di daerah tempat saya tinggal, mengadakan acara acara upacara yang diikuti oleh seluruh santri Krapyak. Bukan hanya itu saja, perayaan secara personalpun dilakukan oleh hampir mayoritas santri, bisa dilihat dari beberapa akun sosial, baik dalam bentuk ucapan tulisan, maupun gambar. Semua turut bahagia menyambut Hari santri Nasional.
Entah ini karena Adanya penetapan hari santri nasional atau memang pola pikir manusia sudah berubah, tapi saya merasa, hari ini image santri mulai berubah. Jika dulu santri dianggap sebagai seseorang yang hanya bisa ngaji dan memilki ruang yang terbatas, hari ini santri seajan melambung diatas udara. Santri tidak lagi dikenal dengan kekolotannya, tapi sekarang dikenal dengan intelektualiatas yang tinggi. Bisa dikatakan bahwa hari ini santri mulai sepakat untuk menunjukaan eksistensinya, bahwa santri juga memilki peran yang sangat penting dalam mengisi kemendekaan.
            Peringat hari santri tuntunya menyadarkan kita, bahwa sudah saatnya kita mulai bangkit kembali melanjutkan perjuangan. Jika pada tanggal 22 oktober 1945 KH Hasyim Asyrai  bersama para santri berjuang untuk melawan penjajah, maka saat ini kita sebagai santri harus mengisi kemerdekaan yang sudah diperjuangkan dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat. Kita harus memberikan kontribusi untuk negeri ini.
            Berbicara tentang kontribusi, tidak melulu berbicara  tentang sesuatu yang besar dan wow. Cukup jalani saja peranmu hari ini, dengan tidak meninggalakan keilmuan yang didapat. Jika kamu hari ini masih nyantri, maka belajarlah yang tekun. Jika kamu seorang Guru, Maka jadilah guru yang “lillahi ta’ala”, jangan hanya mengharapkan imbalan, tapi niaatkanlaha untuk mencerdaskan bangsa. Jika kamu hari ini adalah pedagang, maka berdaganglah dengan cara yang jujur. Jika hari kamu adalah seorang politikus, maka mengabdilah pada rakyatmu, bukan malah mencurangi rakyatmu. Begitulah cara santri berkontribusi. Bahwa setiap apa yang kita lakukan, harus didasari dengan ilmu yang kita peroleh selama nyantri.
Terakhir, mengutip pesan dari mbk Alisa Wahid, Bahwa kita jangan hanya bangga menjadi santri, tapi banggalah ketika menjadi santri yang mampu memberikan kontribusi.

#Selamat Hari Santri Nasional 2016 #Krapyak

Rabu, 05 Oktober 2016

Kutipan

Karena alur setiap cerita cinta dipegang oleh Allah,
maka mintalah hanya pada-Nya ending seperti apa yang kamu inginkan

Nulis

Marx beranggapan bahwa agama adalah candu bagi masyarakat. Bagi Marx, agama tidak membawa perubahan, bahkan justru digunakan untyk melanggengkan kemapanan. Namun, ketika agama mampu ditampilkan dalam bentuk membebaskan, ia menjadi sebuah kekuatan yang mengagumkan.

Agama bukanlah hal yang kaku, yang melulu bicara soal ibadah, Syariat, Hukum dan lainnya. Lebih dari itu, agama adalah sebuah pembebasan.

Teologi pembebasan disini lebih menekankan pada aspek praksis daripada teoritis metafisis. Agama tidak digunakan untuk kepentingan pribadi/status quo, naun agama lebih digunakan pada kepentingan orang banyak, untuk orang-orang tertindas.

sedangkan, inti dari agama islam adalah terciptanya keadilan. sebenarnya keyakinan terhadap tuhan itu secara otomatis memilki konsekuensi menciptakan keadilan. seorang yang mengaku beraga selalu memilki iman dalam dirinya, iman itulah yang akan mengantarkan pada perjuangan. Untuk mencapai keadilan tersebut, manusia harus bebas, bukan terbelenggu oleh dogma agama yang bersifat status quo. Agama harus menciptakan revolusi baru, agar menjadikan manusia sejahtera.

Hal itu selaras seperti yang dikatakan oleh teman saya sewaktu diskusi singkat tentang agama, bahwa "Ia yang berketuhanan secara totalilas, maka sudah tentu harus berkemanusiaan secara totalitas"

#Salam
 (00.10 WIB )

Kutipan

EPESODE YANG TERLEWATKAN

Selama kamu masih mencintai Tuhan,
aku tidak pernah khawatir. Karena mencintai Tuhan 

berarti mencintai takdir yang ia berikan ( Ahimsa Azaleasv, Dlm Ephemera )